Ilustrasi penulis dengan gaya sampul m. album tiga, sketsa kasar dengan pensil warna biru
"Depiksi pribadi dalam gaya sampul m. album tiga"

Meraba m. album tiga


hari ini hari kesehatan mental sedunia. memutuskan untuk menulis refleksi dari karya terkini Kareem Soenharjo dalam m. album tiga. album yang diciptakan untuk merasa gundah dan resah. seperti menguping konseling pribadi orang lain, lewat lirik dan instrumen yang disajikan dalam trek-trek sepanjang 43 menit 19 detik. tulisan ini bukan merupakan ulasan musik seperti diskursus band-band rock yang ramai didebatkan di media massa. refleksi 100% pribadi, pengalaman mendengarkan sejak dirilis 27 september lalu. ditulis sembari prokrastinasi di tengah ujian tengah semester ganjil ini. melalui cuitannya, BAP. berpesan untuk mendengarkan album secara utuh, satu dudukan. pun sama halnya tulisan ini diketik dalam satu sesi mendengarkan, tetapi tidak kronologikal karena memilih untuk insidental.

album ketiga BAP. membuat renungan malam kembali menusuk hati. menangisi apa yang tak pasti dalam hidup ini jika secangkir kopi harganya sudah setinggi air mancur di bundaran hi. sekejap, menit kedua trek mimimpipi memukul sendi dan menolak akan destruksi tubuh ini yang semakin hari semakin menjadi. menetes air mata pukul tiga pagi, sembari meminum teh hangat dandang yang kuseduh sebelum duduk di kursi. bagaimana hidup ini hanya mimpi, dengan siapa aku mengabdi, dan apa yang fana akan berakhir di sini. komentarku: 'perjalanan spiritual yang kosmikal berhenti tanpa mimpi. ujung tak nampak di realitas hasil imaji.' alunan melodi, larutan emosi, berseteru kemudian berkabung melawan rasa sendiri. sendiri, trek dengan judul nama makanan cepat saji 'hokben', diisi refleksi diri. tidak ada yang peduli makan pukul tiga pagi. stres yang tidak dimengerti, andilku telah dinormalisasi. mempertanyakan diri pribadi yang kerap keluar malam pukul dua pagi, atau lebih awal dari ayam jantan berkokok di pagi hari. aku membenci diriku sendiri. sambil berjalan menikmati embun, udara penyebab paru-paru basah ini. dalam pikiran kadang ingin berhenti, matiku lebih cepat dari valentino rossi. tanpa melakukan harakiri, natural dan diumumkan secara verbal lewat speaker rumah ibadah samping kiri. 6 ribu langkah, melewati fly over penuh pengemudi ojek online yang bersandar dan beristirahat menunggu penumpang memesan lewat aplikasi di atas krl jogja-solo trayek paling pagi. menyapa mungkin tak semudah apa yang ku rasa. kehampaan ini seperti musim pancaroba yang datang tak menentu dan tak terprediksi debitnya. sesekali mengunjungi warung nasi bukan asli padang. sebab penjualnya tak tahu bahasa minang. menu telah dimodifikasi mengikuti lidah masyarakat sini. nasi ayam gulai, air es, dan sayur daun pepaya yang menggunung. karboku mungkin 7 kali lebih banyak daripada protein di piring. kekenyangan dan memaksa pulang dengan perut yang tak lagi bergemuruh ricuh. seperti isi kepala sejak earphoneku yang lama hilang di kelas kualitatif tiga. tak ada yang tahu ketika aku memutari stadion 2 hingga 3 kali menjelang fajar menyinari mandala krida. tak ada yang menanyakan apa kabarku setelah kabur, meninggalkan pekerjaan di laptop yang spotify-nya masih menyala.

'lalu apa benar ini semua sia-sia?' mendengar tiga trek penutup dari m. album tiga, pesan untuk kakak perempuan, angee, dan bunda. mungkin aku yang cengeng, tapi kedua mata ini belum reda. spoken words di akhir lagu, bagaimana bisa... apresiasi akan cerita tentang hari ini, kemudian, dan esok nanti. dibungkus dalam romansa, pilu, atau komedi. percuma membagikan ulang postingan maskulinitas beracun di media sosial ketika sulit menjadi pendengar yang baik untuk teman yang bercerita. memakai topeng di segala kesempatan yang ada melelahkan semua. tak hanya yang memakainya, juga yang memaksakan untuk melihatnya. ketakutan muncul jika perasaanku hari ini tidak tervalidasi dengan alasan yang tidak logis, muncul dengan medium pesan singkat benar-benar singkat. kering seperti gurun tanpa respon dan energi yang sama. aku membenci manusia yang tidak menceritakan dirinya, dengan alasan tidak berhak atau takut mengambil posisi dalam keberpihakan yang dilakukannya. omong kosong hidup jika tak diceritakan, frasa terkurung dalam pulau pemikiran yang terisolasi hingga kemudian hari.

aku ingin mati, semoga aku tak hidup lebih lama daripada orang yang aku cintai. kurang lebih begitu gaya bahasa yang ingin disampaikan dari trek ya'aburnee. you bury me, just bury me. memikirkan bagaimana dalam hidup, menjalin relasi dengan teman dan kekasih. menyadari bahwa hidup ini tak sebegitunya hampa jika ada usaha. menjalin relasi dengan teman sebaya di fakultas atau komunitas lainnya. proses yang tak mudah bagi seorang yang setahun lalu masih sulit bercengkrama. tak memiliki kemampuan sosial, sukar menyampaikan pendapat panjang lebar. lalu berargumen dengan isi kepala setelah menyendiri. menyesali ada runtutan kalimat yang lebih cocok dipakai berinteraksi. sekarang membenci... persetan dengan mereka yang diam ketika api unggun menyala. ketika semua dapat dipercaya. ketika hangatnya terbagi ke semua anggota. mungkin kamu lebih baik mati saja. tetapi dalam konteks ini, sebaiknya aku saja. kematian, suatu yang abstrak tak ada yang benar mengerti kecuali diri sendiri. maka biarkanku mati. mengetahui akan kepergianmu akan berat bagiku yang rentan dan lemah ini.

bising, roda kehidupanku disabotase ide harapan, akan datang di kemudian hari. clumsy, yang tak tertolong lagi. apakah misery ini akan berakhir setelah mendengarkan trek gairah (live from the fuck off)? mungkin tidak, mungkin iya. disusul dengan mimimpipi yang terefleksi di bagian pertama tulisan ini, gairah berhasil menaikkan amarah. tensi gula darah mendidih. meninggi hingga aku perlu rehabilitasi di kamar 2,5 m x 3 m ini. mengalihkan fokus dari menyesali apa yang terjadi di MOMO's MYSTERIOUS SKIN menjadi hingar bingar dunia dan aku harus hustle untuk mencapainya. Trek ketiga, wake up look alive! menjadi manifestasi dari Komunitas Marah-Marah. Tetapi bukan kebencian yang tertarget kepada kelompok marjinal, karena menjual roti di atas trotoar. Introspeksi diri, kembali lagi. memarahi diri sendiri yang tidak berenergi. tanpa kafein gumaman ini tidak mungkin tercipta. mengusik kedamaian, zona nyaman yang dibentuk tak menghasilkan pundi untuk masuk ke kantong jeans warna biru muda atau cargo warna abu gelap yang dikenakan sepekan ini.

bath song, menyadari munculnya musuh dalam diri. mendekat, mengawasi, menginterupsi di dalam trek bruxism or, why i'm afraid of earthquakes. tinggal di tempat yang sering gempa, bersama penyakit vertigo yang mungkin diderita (tak pernah konsul ke dokter). ditambah darah rendah karena makan daging hanya di hari raya. ketakutan akan hidup yang berguncang, terasa walau tak sedang duduk di bawah tiang bendera balairung malam itu. setelah berlilin di depan pohon bodhi, merasakan gempa terkencang yang terekam dalam pikiran. takut juga dengan sedikit banyak persona berusaha menjadi diri yang terbaik (atau terburuk). memaksakan kehendak satu dengan lain, bertengkar di tengah gladiator dengan set perlengkapannya masing-masing. pandemi menyadarkan kehadiran yang lain. melalui monolog tengah malam di pagi yang harus mengikuti pembelajaran jarak jauh. pertempuran kala itu lebih mengerikan karena memakan banyak korban. dua hingga tiga, terdokumentasi di tulisan lama yang mungkin belum terunggah di situs pribadi ketika menulis ini. “it's always ending”, to be tubi merapalkan kalimat ini berulang kali. perjalanan menuju akhir, selalu berakhir. mau tidak mau apapun yang dimulai akan berakhir kemudian hari. mengingat kembali bagaimana merasakan hidup di atas waktu. sebenarnya juga tak tahu apakah 2020-2021 itu void dalam linimasa kehidupan ini dengan nihilnya peran waktu. andai saat itu memiliki lain yang signifikan, mempertanyakan haruskah kehidupan ini berakhir dengan kematian? siapa yang ingin duluan karena dengan merasakan ketidakberadaan, kondisi mengerikan. mendengar testimoni seperti menampilkan reka ulang momen berkesan di kehidupan, menit-menit terakhir yang merindukan.

numb, i feel numb with this life. i don't know if i can write about three last songs. songs i can't relate much when i don't have that. i don't know if i can have that at this point, or if i deserve that kind of thing. the ride was too crazy for me. the album is ending in 19 seconds and i had to end the writing here.