Malam sunyi
malam ini aku pergi ke kotabaru. menghembus nafas kencang dan berjalan tanpa tuju. mungkin aku sulit tidur lagi atau garis rambut yang semakin menepi, kematian ini seperti tinggal menghitung jari.
memutar lagu dengan genre twee pop lagi, sebab aku tak mampu berhenti melamun hari ini. setelah 15 ribu langkah kaki melepuh macam terkena api, malam yang sunyi semakin tak berarti. mengapa aku sering melamun akhir-akhir ini? membolos kelas pagi karena tak sanggup mengangkat pundak kiri. beban yang harus dipikul, apakah ini abadi?
duduk di persimpangan, pinggir jalan, dan gerobak kopi. tidak 'skena' atau 'kalcer', seperti gelandangan tanpa topi. memakan melon potong yang setengah manis dan air mineral botol gratis.
'kapan pulang?', keluarga menelepon tempo hari. ku tepis obrolan dengan 'aku masih betah di sini'. malam yang sunyi, ku gunakan untuk menyendiri. dari hiruk-pikuk duniawi.
menghabiskan saldo di rekening pribadi dengan memesan paket makanan buffet, sembari menunggu di lobi. apa yang terjadi dengan diriku yang selama ini? perlu dua dekade lagi untuk menyadari kepergian ini. ia yang tlah meninggalkan kami, selama itu aku sudah menyiapkan tabungan mandiri.
tidak ada yang akan membaca tulisan ini. harapan mungkin sirna dan tak akan kembali, seperti kucingku setelah dikebiri. kabur entah ke mana dan tanpa kabar lagi.
pusing jika laut yang ku lihat tak kunjung pasang. kancing kemeja hitam yang tak pernah ku pakai pun hilang. akibat pintu lemari yang semakin usang. tak mengerti apa dikonsumsi oleh musang.
mungkin aku naif. namun hidup ini tidak bergerak ke arah mata angin manapun lagi. hilang jati diri dan diriku hanya menjadi mahoni. sempat terpikir untuk meyakini yang tak pasti. sempat berakhir seperti yang diramalkan saat setengah mati.
mati suri, aku ingin mengerti. apa mungkin menenggak lima botol anggur murah, taman eden akan mendatangi kami?