Tangkapan layar spotify, dalam gambar: Tidak Ada Salju di Sini, Pt. 4
"Trek musik ini mengiang hingga pandemi pun pergi"

Hentikan pandemi ini


Aku ingat kala itu, menjenguk Ibu yang demam tinggi hingga harus masuk RSU. Sepulang dari sekolah dan kali pertama aku mengendarai sendiri motor orang tuaku. Membawakan pakaian ganti karena tidak berekspektasi harus menginap beberapa hari lagi. Di kamar ruang kelas tiga, sambil bercakap ringan dengan bunda, mataku tertuju pada televisi tabung yang memutar berita. Libur dua minggu lagi, setelah semesteran yang tak lama ini. Senang sekali kala itu, duduk di akhir bangku SMP dan ujian sekolah yang tertunda sementara waktu. Akibat pandemi yang pecah di waktu yang salah. Aku kira kebijakan penjenguk maksimal dua orang kala itu jadi petunjuk seberapa protektif lembaga kesehatan di dekat tempat tinggalku.

Namun siapa sangka dua minggu berubah jadi dua tahun lamanya. Hingga saat ini, fase pandemi mungkin menjadi void di ingatan kepala. Lubang hitam yang tak terisi ingatan bermakna. Beruntungnya kami pergi karya wisata di tahun kedua, ke Jakarta dan pulang sebelum outbreak tiba. Syukur tetap aku panjatkan karena masuk ke SMA ternama di kota. Melalui jalur prestasi dengan nilai rapor yang pesimis karena tak pernah mengikuti lomba. Saat itu mandiri ku harus mengurus semua data karena ayah tak mau ikut campur dengan pilihan hidup anaknya. Heran aku di tahun kedua ketika pendaftar SMA masih menggendoli orang tuanya. Hingga kemudian aku masuk admisi. Bangga dan senang hati karena Ayah punya penerusnya di sini. Sebagai anak kedua dalam keluarga, tidak banyak ditempa untuk kemauan mereka. Sekali lagi, bertanggungjawab atas pemilihan pribadi.

Bulan Juli, tahun pertama pandemi, disorientasi belum banyak terjadi. Kaget mungkin iya. Sedari lama menunggu untuk masuk sekolah namun tak kunjung juga. Sempat bertemu teman sebaya selama 3 hari lamanya. Waktu yang tidak cukup untuk menghafal nama siapa saja. Kelas yang dibagi menjadi dua sesi, pagi dan siang. Lebih pas untuk tur keliling sekolah kala itu karena masa pengenalan yang hampir tiada. Memakai penuh APD sebagai siswa, mengenakan masker dan plastik pelindung murah yang aku lupa dapat dari mana. Mengunjungi lorong sekolah yang agak familiar karena aku pernah berkompetisi di sana satu tahun sebelumnya. Agak klise dan lucu kemudian bagaimana di momen sosial yang sempit itu aku bertemu cinta pada pandangan pertama. Hati tersaut kepada anak dari sesi kedua yang berpapasan saat aku keluar dari parkiran sekolah menuju rumah. Salah tingkah, sejak tiga hari pertama. Cerita yang belum sampai mana-mana tapi sudah ku sampaikan dengannya.

Upaya untuk mendapat rekognisi pun dicari. Sebuah kebetulan aku dengan E – dan akan disebut E setelah ini – menjadi penanggung jawab mata pelajaran penjasorkes dengan guru yang masih kami benci hingga saat ini. Memberi tugas praktik gerakan atletik selama seminggu sekali dan diunggah ke Instagram milik pribadi. Kesempatan terbuka untuk berbincang tiap hari walaupun virtual dan terbatas jarak lagi. Sumpah tidak ku gulir ruang obrolan kami di WhatsApp untuk menuliskan cerita hidup ini. Bermulai dari ajakan mutual “Oh, I found your account on IG!” hingga ajakan “Mau nggak nonton Evangelion malam ini?”. Judul anime yang kami hiperfiksasi sejak awal pandemi. Kebetulan sedang merilis seri keempat dalam tetralogi Rebuild of Evangelion. Sangat ingin ku menonton di sinema namun pandemi yang semakin menggila memaksa kami streaming di Amazon Prime saja.

Satu hal yang kusadari adalah waktu yang berlalu begitu saja. Kegiatan repetitif kala pandemi, goleran di kasur, mengecek Google Classroom, dan tidur lagi. Sesekali menanyakan apa kabarnya dan celotehan seperti “Kapan Hatsune Miku konser di Indo lagi?”. Di periode waktu yang sama, ku ingat menonton video Vsauce, konten kreator bisa dibilang hybrid dari saintis dan komedian. Merilis konten di Youtube dengan judul “Illusions of Time”. Salah satu bagiannya membicarakan persepsi mengenai konsep waktu secara kronologikal membuat kita mengalami perbedaan perasaan akan jauh-dekat dan lama-cepatnya. Dengan contoh t-rex dan stegosaurus yang kita persepsikan berada di masa yang sama, padahal terpaut 12 juta tahun titik kepunahannya.

Disorientasi terjadi dan akupun suka lupa makan lagi. Pagi dan malam yang tidak terasa karena harus berada di kamar terasa sepanjang masa. Menamatkan drama korea yang bahkan sebelumnya tidak terpikirkan untuk menyentuhnya. Menyelesaikan series peringkat dua di IMDB karena tidak tertarik dengan Game of Thrones yang booming lagi pasca musim ke-8nya rilis. Pembusukan kasur dan pembusukan otak, semakin hari semakin aku malas mandi. Tak bertemu siapapun aku mulai depresi. Diagnosa sendiri, tapi memang demotivasi. Memulai proyek karya tiga dimensi digital pun terhenti semenjak menyadari laptopku tak kuat untuk merender scene ini. Hanya musik dan perasaan ketika menemukan artist dengan pendengar di bawah 10 ribu yang dapat mengobati. Kesuraman yang tidak berhenti bahkan ketika orang yang aku kagumi justru menjadi sahabat karibku hingga saat ini. Namun detail tak perlu diceritakan di sini atau mungkin saja lain kali, lewat jalur pribadi.

Sempat kucoba menulis sebagai mekanisme koping lain. Prosa dan sajak tak bermutu yang kusebut “sajakmesin” sebagai kritik kepada fabrikasi atas konsep dunia dan seisinya. Namun ku lupa tautan tumblrnya. Pasca kemkominfo sempat blokir tumblr dan reddit juga, tak tahu apa alasannya, justru ku tertantang untuk berjejaring di sana. Akademik masa pandemi bukan suatu yang aku harapkan terjadi lagi. Lupa tenggat waktu, terlalu idealis, hingga untungnya nilai tesku cukup untuk masuk perguruan tinggi. Langgan Zenius lungsuran temanku yang lolos lewat nilai rapor pun tak ku sentuh sama sekali, hingga h-30 menit masuk ruang uji.

Lantas, apa refleksi dari kejadian ini? Singkat saja, aku benci pandemi. Kupikir tidak akan mengenal apa itu nihilis sebelum ‘tragedi’ ini terjadi. Kembali ke ketiadaan aku hobi, sekarang aku tidak tahu arah kehidupan ini. Setelah menyadari waktu yang cepat berlalu dan hilang tak kan kembali. Berharap ada yang menggunakan mesin waktu di masa depan untuk mencegah kerusakan ini. Sekian dan terima kasih telah membaca gumaman tidak jelas ini.